|
Sidoarjo- Semburan Lumpur Sidoarjo (Lusi) tidak muncul dari sumur yang disebabkan UgBO (Underground Blowout). Fenomena alam Mud volcano seperti Lusi sudah ada sejak zaman dahulu, Namun tidak ada pihak yang menduga kapan mud vulcano akan muncul.
Mud volcano Kalang Anyar & Pulungan (Sedati, Sidoarjo), Gunung Anyar (kampus UPN Surabaya), Bleduk Kuwu & Keradenan (Purwodadi), Wringin Anom / Pengangson (Gresik), Semolowaru (kampus Unitomo, Surabaya), Dawar Blandong (Mojokerto), Sangiran (Java Tengah), Socah (Bangkalan, Madura) adalah fenomena alam mud volcano yang muncul di Jawatimur bertahun-tahun lalu, namun fenomena alam lusi sangat dikaitkan dengan pengeboran Banjar Panji 1 yang saat itu sedang melakukan aktivitas.
Dari berbagai data pemboran sumur dianalisa, ternyata didalam sumur tidak terjadi UgBO. Tekanan didalam sumur terlalu rendah untuk dapat mengakibatkan rekahan panjang dan menahan rekahan tersebut agar tetap terbuka agar lumpur bisa keluar.
Sumurnyapun, yang merupakan jalur termudah (least resistance path) bagi keluarnya lumpur dalam keadaan mati, tidak mengeluarkan lumpur, cairan serta gas. Padahal sejak saat awal LUSI sudah mengeluarkan lumpur dengan debit yang sangat tinggi sebesar 50.000m3 atau lebih dari 300.000 bbl/day, posisi BOP (blowout preventer) dalam keadaan terbuka.
”Aktifitas pemboran masih dapat dilakukan seperti fishing, cementing dan circulating dll”, Ujar Bambang Istadi, Drilling Lapindo Brantas, Inc (LBI) (23-9-2008)
Pada saat awal2 semburan debit lumpur setara dengan sepertiga produksi minyak Indonesia, dimasa puncaknya debit melebihi produksi minyak Indonesia sejuta barel perhari. Kemungkinan sangat kecil bagi sebuah sumur untuk dapat mengeluarkan debit yang ekstrim tersebut, dibutuhkan parameter aliran dan reservoir seperti permeabilitas lebih besar dari 3500 mD dengan radius sumur 2286 kali (sekitar 1.4 km diameter) dan terekspos pada formasi Kujung setebal 3200 kali. Simulasi debit ini dilakukan dengan rumus radial flow equation Darcy Law (Nawangsidi, 2007). Sebagai gambaran permeabilitas tertinggi pada sumur produksi Formasi Kujung sebesar 22.5 mD, jadi untuk mencapai debit LUSI dibutuhkan parameter aliran 140 kali lebih besar.
Saat pertama kali terjadi semburan pada 29 Mei 2006, dilakukan injectivity test disumur untuk mengetahui apakah semburan berhubungan dengan sumur.
“Setelah dipompakan lumpur pemboran 2 kali, tidak ada tanda2 penurunan tekanan seperti layaknya ban bocor. Tekanan bertahan pada 900 psi. Injectivity test berikutnya dilakukan pada hari berikutnya sebelum melakukan penyemenan dengan injection yang menunjukan tidak ada hubungan antara semburan dengan sumur,” terang Bambang istadi saat pemaparan dengan anggota BPPT di Hotel Shangri-La
Kunci untuk menentukan apakah formasi pecah adalah dengan perhitungan apakah telah terjadi UgBO yang mengakibatkan tekanan tinggi yang memecah formasi pada titik terlemah. Perhitungan dengan menggunakan nilai Shut In Casing Pressure, Fluid density, Bottom Hole Pressure dan Leak Off Test Data. Perhitungan ini haruslah mengunakan data-data yang terbaca disumur serta fakta yang terjadi dilapangan. Dari perhitungan ini terungkap bahwa formasi tidak pecah.
Jika semburan berhubungan dengan sumur dan mengalir lewat sumur maka beberapa bulan kemudian setelah semburan semakin membesar, maka seharusnya lubang sumur yang belum terpasang casing menjadi besar sekali tergerus aliran fluida yang sangat besar. Teori ini sering diungkapkan oleh kelompok UgBO, dimana fluida mengalir dari Formasi Kujung mengerus lempung di Formasi Kalibeng, memecah formasi dan membawa lumpur hasil gerusan. Jika memang demikian yang terjadi, maka fish yang berada dalam lubang harusnya sudah jatuh, tidak terjepit lagi karena lubang telah menjadi sangat besar. Faktanya pada saat melakukan operasi snubbing pada akhir Juni sampai akhir operasi re-entry dipertengahan Agustus 2006, “Fish” tidak bergeming, tidak jatuh dan tetap pada posisi saat pertama kali ditinggalkan. |