Rabu, 07 Januari 2009
Halaman Utama arrow Halaman Utama arrow Pers Rilis arrow Diskusi Ilmiah Dihasilkan dengan Voting
Main Menu
Halaman Utama
UCAPAN TERIMA KASIH
Tentang MLJ
Lumpur Sidoarjo
Tanya Jawab
Kebijakan - Kebijakan
Produk MLJ
UNDANGAN REALISASI
Diskusi Ilmiah Dihasilkan dengan Voting
Ditulis Oleh ttk   
Kamis, 30 Oktober 2008

London, Lapindo Brantas Inc. (LBI) kecewa adanya voting dalam forum ilmiah, akan tetapi pihak LBI tetap  memberikan apresiasi kepada semua perserta forum ilmiah tersebut, dengan upaya perhitungan teknis matematis untuk menentukan faktor pemicu semburan lumpur panas Sidoarjo.

Apresiasi iu diberikan. terkait dengan perdebatan dua kubu; drilling dan earthquake sebagai pemicu semburan lumpur Sidarjo yang berlangsung di AAPG 2008 International Conference & Exhibition, Cape Town, Africa Selatan. Dalam rilis yang diterima beritajatim.com, Kamis (30/10/2008) pagi ini, Yuniwati Teryana menegaskan, LBI mendukung, Lusi Mud Volcano menjadi topik dalam diskusi sentral International Conference ini. Demikian juga ketika Lusi menjadi pembahasan dalam acara Geology Society conference 21-22 Oktober 2008 di Burlington House Piccadilly, London.


Fokus sentral diskusi di Cape Town adalah faktor pemicu (trigger) Lusi. Ahli kebumian internasional tidak meragukan lagi Lusi sebagai Mud Volcano. Hanya persoalannya adalah apa pemicu gunung lumpur besar itu. Semua makalah menyebut Lusi (Lumpur Sidoarjo) sebagai Mud Volcano dalam judul ataupun abstraknya. LBI menghormati pendapat Richard Davies dkk yang menulis makalahnya berjudul The East Java Mud Volcano (2006 to Present): An Earthquake or Drilling Trigger? dimana telah menyajikan banyak asumsi sehingga Davies meyakini faktor drilling sebagai pemicunya.


"Begitu juga kepada Nurrochmat Sawolo dalam makalah East Java Mud Volcano (Lusi): Drilling fact and Analysis memaparkan data faktual drilling dan analisis yang bertentangan dengan pakar Inggris itu," ungkap
Yuniwati Teryana, Vice President Lapindo Brantas Inc.


LBI berharap semua data yang digunakan telah di cross check dengan data lain sehingga data yang dipakai dapat diyakini kebenarannya. Seperti diketahui, Richard Davies dkk dalam perhitungannya ada yang memakai data dari sumur pemboran Porong. Sedangkan Sawolo menggunakan perhitungan dari data autentik sumur Banjar Panji itu sendiri.
Nurrochmat Sawolo adalah kepala drilling yang bertanggung jawab pd pemboran BJP I. Karena itu, dia concern dan prihatin soal validitas data yang digunakan untuk menganalisa sumur BJP I bila dikaitkan dengan Lusi.


"Para pakar asing itu menganalisa dan membuat model perhitungan berdasarkan data yang belum di cross check dengan data lain atau fakta sehingga diragukan keabsahannya. Berbagai hipotesa dan interpretasi musti mengacu pada fakta dilapangan" kata Nurrochmat Sawolo .


Sedangkan Bambang Istadi menambahkan, ada 4 faktor yang musti terjadi didalam sumur yang bisa mengakibatkan semburan berasal dari sumur, yaitu adanya kick yang tidak terkendali, formasi pecah di titik terlemah, terjadi underground blowout dan adanya tekanan tinggi yang berkelanjutan sehingga pecahnya formasi menerus sampai ke permukaan.


"Sedangkan Fakta-fakta dilapangan membuktikan ke-empat faktor tersebut tidak terjadi," tegasnya.


Dalam perhitungannya, Richard Davies dkk. Memakai besaran tekanan di drill pipe side dimana terdapat non ported float valve sehingga tidak terjadi U-tube (bejana berhubungan). Hasil dari perhitungan ini menyimpulkan sumur pecah yang mana tidak sesuai dengan fakta dilapangan.

Sedangkan Lapindo menggunakan sistem casing side karena nilai densitas dari fluida dan bottom hole pressure sudah diketahui yaitu sebesar 8.9 ppg dan 12,8 ppg. Hasil dari perhitungan ini sama dengan fakta yang ada yaitu sumur tidak pecah.

Fakta bahwa sumur tidak pecah ini disimpulkan dari hasil injection test pada 29 Mei 2006 dimana tekanan dalam sumur cukup tinggi antara 370 – 900 psi. Injection test yang tinggi ini berarti sumur tidak pecah dan tidak
terjadi underground blowout (UGBO). LBI memahami bahwa simpulan hasil pembahasan Lusi di AAPG 2008 International Conference, Cape Town Afrika selatan ini masih variatif dan terbuka. Mark Tingay dari School of Earth & Environment Sciences, University of Adelaide, Australia mengatakan Lusi adalah sebuah bencana geologi yang pemicunya belum jelas.


"Data yang bisa dianalisa sangat sedikit dan tidak memiliki kepastian sehingga interpretasinya bisa bermacam-macam" ujarnya dalam presentasi.


Faktor drilling boleh jadi lebih popular sebagai pemicu semburan dari pada faktor gempa. Namun ahli bumi dari Australia ini akhirnya juga menyatakan bahwa, "Drilling trigger may never be conclusively proven".
LBI juga memberi perhargaan pada Geologi A. Mazzini dari Universitas Oslo yang beberapa kali ke Porong dan menulis makalah Causes and Trigger of the Lusi Mud Volcano, Indonesia. Ahli ini menyimpulkan penyebab (causes) semburan Lusi adalah system mud volcano yang sudah matang di Sidoarjo. Sedangkan pemicu (trigger) semburannya adalah gerakan reaktivasi patahan Sesar Watukosek (watukosek fault) sesudah gempa terjadi.

 

 Mazzini juga mengatakan, "Mud volcano seperti ini bisa terjadi kapan dan dimana saja".
Di Jawa Timur, Lusi adalah gunung lumpur baru, disamping empat belas gunung lumpur lain yang sudah tercatat. Karena itu, Lapindo Brantas Inc. menyambut gembira karena diakhir perdebatan 2.5 tahun itu ada kesepakatan antar dua kubu untuk mereview data, fakta dan analisa bersama.


Bambang Istadi mengatakan; "Lapindo membuka diri bagi semua untuk mengaksess data sehingga hipotesa dan interpretasi R. davies dkk tidak mengabaikan fakta lapangan. Kerja sama diantara pakar dunia nanti diharapkan dapat menentukan kejadian sebenarnya."

Pembahasan Lusi dalam AAPG 2008 International Conference Cape Town ini sebenarnya diharapkan menjadi forum ilmiah. Namun Yuniwati Teryana menyayangkan; "diskusi ilmiah yang seharusnya murni menggunakan metode ilmiah untuk mengungkapkan kebenaran ilmiah namun diakhiri dengan voting yang tidak lazim dalam forum ilmiah".


Padahal dalam conference ini tidak ada agenda untuk pengambilan suatu keputusan apapun menyangkut Lusi. Jumlah mayoritas tidak otomatis benar dan mutlak secara ilmiah.

 

Dikutip dari Beritajatim.com (30/10)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Maintained by
Telkominfo Indonesia