Rabu, 07 Januari 2009
Halaman Utama arrow Halaman Utama arrow Pers Rilis arrow Hasil Debat Geologi Tidak Mempengaruhi Lapindo
Main Menu
Halaman Utama
UCAPAN TERIMA KASIH
Tentang MLJ
Lumpur Sidoarjo
Tanya Jawab
Kebijakan - Kebijakan
Produk MLJ
DAFTAR UNDANGAN REALISASI
Hasil Debat Geologi Tidak Mempengaruhi Lapindo
Ditulis Oleh dad   
Rabu, 05 November 2008

Surabaya- Debat internasional di london dan capetown waktu lalu membahas pemicu semburan lumpur Sidoarjo dari hasil voting pakar geologi menyimpulkan jika semburan berasal dari pengeboran yang dilakukan oleh Lapindo Brantas, Inc.

“Apapun hasilnya hal ini tidak berpengaruh apa-apa, Minarak dan Lapindo tetap berkomitmen menjalankan perpres 14/2007 dan tetap menjalankan kepedulian sosial bagi warga terdampak,” Jelas Yuniwati Teryana, Vice President Lapindo. (5-10-2008)
Yuniwati menambahkan jika pertemuan geologi itu hanya untuk menambah wawasan dan juga sebagai ajang untuk pemaparan data dan fakta lapangan yang dimiliki untuk menyamakan persepsi dari hypotesa dan asumsi yang kurang tepat.
Terkait apakah nantinya akan diadakan pertemuan yang sama antar Geologi, Yuniwati mengatakan jika pihaknya akan selalu membuka bagi siapa saja yang akan memaparkan pendapatnya terkait pemicu bencana lumpur Sidoarjo.
“Tapi yang pasti didasarkan dengan asumsi dan data yang tepat,” ujar Yuniwati.
Sebelumnya pernah dipaparkan data dan fakta terkait pemicu semburan lumpur Sidoarjo melalui Edy Sutriono selaku vice president drilling Lapindo, dari datanya di dapatkan jika lusi tidak berasal dari underground blow out.
Menurut Edy Sutriono, kesimpulan jika lusi berasal dari pengeboran berdasar pada perhitungan yang dilakukan oleh Rudi rubiandini dengan menggunakan data yang tidak faktual, jika menggunakan data yang benar maka jelas sekali formasi bawah cassing shoe tidak pecah.
“Shut in cassing preasure dan berat fluida digunakan angka yang salah, data Rudi yang dipakai adalah tekanan sebesar 1,054 psi dan 14,7 ppg untuk berat lumpur dengan angka tersebut maka didapatkan tekanan casing sebesar 3.790 psi atau lebih besar dibandingkan tekanan formasi yang besarnya 3.053 psi,” ujar Eddy.
Eddy melanjutkan seharusnya data yang digunakan, untuk tekanan lumpur digunakan 450 psi dan berat lumpur seharusnya 8,9 ppg sehingga dari perhitungan didapoatkan tekanan cassing sebesar 2.106 psi ini lebih jauh dari ambang tekanan rekah formasi, sehingga underground blowout tidak terjadi.
Dari fenomena yang terjadi, banyak pakar geologi yang mengatakan jika munculnya semburan adalah mud vulcano, seperti fenomena yang terjadi debit lumpur yang mencapai 150.000 m3/hari sangat tidak mungkin jika keluar dari lubang sumur yang hanya berdiameter 12,25 inch, selain itusemburan muncul dari lubang yang jaraknya 200 meter dari pengeboran BJP.
“Sangat tidak mungkin jika semburan berasal dari pengeboran, “ terang eddy saat pertemuan di shangrila bulan maret lalu.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Maintained by
Telkominfo Indonesia